Archive

Archive for the ‘Computer’ Category

Mendinginkan Laptop Dengan Undervolting

May 6, 2010 39 comments

Kenapa ingin mendinginkan laptop? ya karena laptop panas. Kenapa panas? Hal ini dapat disebabkan karena load cpu & internet tinggi, membuka file video, Virtual PC (Virtual Box, VMWare, dll), AutoCAD, 3DMax, Matlab, Oracle, dll. Temperature CPU bisa mencapai 80an °C. Padahal batas aman temperature CPU adalah 80°C. Sedangkan batas kritis adalah 90°C. Nah, temperature laptop saya sudah biasa mencapai 99°C (Sudah bisa menggoreng telur ceplok… :D).

Cara untuk mengatasi panas laptop dapat dengan:
1. Menggunakan Cooling Pad

Cara yang sudah lazim digunakan yaitu dengan Cooling Pad. Namun, pemakaian ini kurang berpengaruh karena hanya akan menurunkan temperatur CPU 1-5°C saja.

2. Membersihkan kipas & heatsink laptop dari debu

Hal yang penting namun jarang sekali dilakukan pengguna laptop adalah membersihkan kipas & heatsink laptop dari debu. Laptop yang sudah lama dipakai tentunya debu akan menumpuk di sekitar kipas & heatsink. Debu akan menghalangi udara yang masuk lewat cooling pad dan juga hembusan udara panas yang keluar. Untuk laptop saya sendiri karena kipas untuk processornya mati maka penutupnya saya buka sehingga tidak menghampat udara yang berhembus dari cooling pad.

3. Ganti thermalpaste CPU

Setelah membersihkan kipas & heatsink dari debu. Jangan lupa untuk mengganti thermalpaste. Thermalpaste tidak berfungsi untuk mendinginkan cpu secara aktif, melainkan membuat transfer panas dari CPU ke heatsink menjadi lebih bagus. Jika mengganti thermalpaste tapi heatsink berdebu atau
kipas tidak berjalan normal, maka tidak berefek. Gunakan thermalpaste yang juga digunakan untuk CPU.

4. Suhu Ruangan

Suhu ruangan sangat berpengaruh terhadap panas laptop. Tentunya menggunakan laptop di ruangan ber-AC bagus untuk laptop. Kalau ingin dirasa tidak memungkinkan bisa menggunakan kipas angin kecil lalu diarahkan ke bagian processor dari laptop. Hal ini juga saya lakukan dan pengaruhnya sangat besar.

5. Undervolting

Undervolting adalah cara mengurangi panas di CPU dengan menggunakan software. Dan cara ini adalah cara yang sangat efektif dibandingkan cara-cara diatas.

Mari kita mengenal lebih dekat lagi apa itu Undervolting?
Undervolting adalah proses mengurangi voltase berlebih ke CPU dengan menggunakan software. Undervolting tidak mempengaruhi performance sama sekali. Yang mempengaruhi performance adalah overclock dan underclock.
Undervolting tidak sama dengan underclocking.
Tidak semua prosesor sama, tiap model prosesor memiliki toleransi voltase yang berbeda. Menyetel voltase stabil terendah ke tiap chip, Intel memakai voltase standard yang stabil (dan tinggi) ke setiap chip. Masalahnya adalah voltase standard pabrikan sangat tinggi (otomatis menambah tinggi temperatur cpu). Undervolting mencoba menyetel ke voltase stabil yang paling rendah.
Proses undervolting memang memakan waktu, karena kita harus mencari voltase stabil terendah untuk tiap2 multiplier di CPU. Multiplier berhubungan dengan teknologi speedstep, daripada CPU bekerja full power tiap saat, multiplier digunakan untuk mengatur clock CPU secara dinamik (tanda multiplier: 6x, 7x, 8x, 10x dst). Jika sudah mendapatkan voltase stabil maka hasil undervolting akan maksimal.

Software-software yang diperlukan untuk Undervolting :
1. RMClock (Program untuk Undervolting)

Silahkan mendownload disini.

2. Orthos CPU Loader (Program untuk mengetes stres CPU & mencari stabilitas voltase)

Silahkan mendownload disini.

3. HWMonitor (utk melihat temperatur CPU realtime)

Silahkan mendownload disini.

ket: laptop saya menggunakan processor Intel & 32 bit. Untuk spek yang berbeda (AMD atau 64 bit) menggunakan setting atau software yang berbeda pula.

Tutorial untuk Undervolting :
Keadaan laptop saya sebelum Undervolting :
CPU Info
HWMonitor 2

1. Mengecek Temperatur Max sebelum Undervolt

Pertama kita harus mencatat temperatur max jika cpu jalan 100%
i) Buka HWMonitor, lihat temperatur untuk CPU(jika ada 2 core maka akan menunjukkan temperatur masing-masing core).
ii) Buka Orthos, pilih “Small FFTs-Stress CPU”.
iii) klik Start pada Orthos, dan jalankan slama 10 menit, cek temperatur CPU naik di HWMonitor.
iv) stelah 10 menit, klik Stop untuk menghentikan tes, catat temperatur max CPU.

Orthos

2. Install dan Setting RMClock

Klik tab di kiri “Advanced CPU Settings”, samakan setting dengan screenshot lalu klik “Apply”.
*pengguna AMD perlu men-check “P-State Transistors” utk undervolt yg lebih baik.

Advanced CPU Settings

3. Setting Profile

i) buka tab Profiles > Performance on demand spt pada screenshot
check “Use P-State Transitions” lalu check smua “Index” checkbox di bawahnya, klik Apply

Perfomance On Demand

ii) buka tab Profile (main profile)
pilih performance on demand utk AC Power dan Battery, check smua multiplier bertype Normal. Jika cpu Anda menunjukkan adanya SuperLFM dan IDA, uncheck dulu kedua checkbox itu
klik Apply

Profile

4. Undervolting

i) mulai dari multiplier terbesar (kasus ane 7x),
pada screenshot terlihat voltase default adalah 1.1750V
yang harus kita lakukan adalah menurunkan voltase lalu test kestabilan voltase tsb, lakukan secara bertahap
turunkan 0.025V per tahap sampai menemukan voltase yang tidak stabil (pada tes kestabilan di bawah)
*kebanyakan org bisa langsung menurunkan 0.100V pada tahap pertama

ii) Tiap menurunkan voltase, klik Apply. jika tidak setting baru tidak akan berefek.
iii) Untuk mencari voltase di multiplier yg lebih rendah,
uncheck multiplier yg lebih tinggi yang sudah mempunyai voltase stabil
(dengan demikian cpu hanya akan bekerja max pada clock multiplier yg dicheck)

5. Test Kestabilan

i) Buka Orthos dan HWMonitor
ii) Buka tab “CPU Info” pada RMClock (untuk melihat temperatur dan clock cpu)
iii) Set tipe Orthos “Small FFTs-Stress cpu”
iv) Start Orthos selama 45 menit *pada tahap mencari voltase yg stabil, 10-15 menit sudah cukup
– Jika voltase tidak stabil, maka laptop Anda akan mengalami BSOD (Blue screen) atau Error pada Orthos
jangan panik jika muncul BSOD, restart laptop Anda secara normal.
– Stelah menemukan voltase yang tidak stabil, naikkan voltase 2 tingkat lalu jalankan kembali tes kestabilan
(Voltase yang stabil ini selanjutnya akan digunakan seterusnya untuk multiplier tsb)
– untuk voltase stabil ini disarankan untuk menjalankan tes kestabilan lebih lama, 1-3 jam.

Monitoring

6. Hasil

Saya berhasil menurunkan voltase 6x – 10x dari 1.2000 V ke 0.9000 V (turun 0.3000 V). Temperature CPU 93,4°C menjadi 45,4°C

CPU Info 2
HWMonitor 2

stelah smua multiplier mendapatkan voltase stabil, setting agar RMClock selalu jalan pada saat windows startup:
– tab Profile di RMCLock: pilih “Performance on demand” untuk Startup dan current, klik Apply
– tab settings: check “Start minimize in windows tray” dan “Run at windows startup”,klik Apply spt pada screenshot:

Settings

Ctt.:
– Jika sudah dapet voltase yg stabil, jangan lupa check kembali semua multiplier di Main Profile dan sub-profile (kcuali IDA)
– SuperLFM adalah cpu memakai fsb paling rendah (jika cpu dlm keadaan idle)
– IDA adalah cpu hanya menggunakan 1 core (tidak disarankan utk dipakai)
– utk SuperLFM dan IDA voltase tidak disarankan utk diubah
– RMclock blm support CPU dengan half-multipliers. Multiplier akan diturunkan ke integer. prosesor model T8100/T9300/P7350/P8400/P9500 akan ter-underclock 100mhz (karena multiplier tertinggi terkurangi 0.5x)

credit to : crayonyes@K45ku5.

Advertisements

Tips Memilih Harddisk Eksternal (Portabel)

October 19, 2009 Leave a comment

Dikarenakan rencana mau beli harddisk eksternal maka postingan selanjutnya adalah tips memilih harddisk eksternal. Saya mau beli harddisk eksternal karena harddisk yang 250 GB IDE badsector dan susah untuk diperbaiki lagi. Dan yang 320 GB SATA rencana akan saya gunakan untuk dipasang di komputer yang sudah lama tidak saya hidupkan. Hitung-hitung kan nantinya komputer juga mau diwariskan ke adik saya, Dimas. Oleh karena itu, biar efektif dan bermanfaat kedepannya saya akan membeli harddisk eksternal. Lagi-lagi saya harus mengeluarkan uang. Casing eksternal harddisk SATA yang baru saja saya beli jadi tidak dipakai.

WD Harddisk External
Jika Anda seperti kebanyakan orang, Anda pasti pernah mengalami hal yang satu ini. Merasakan kapasitas simpan pada harddisk yang dipasang di dalam komputer menciut dengan cepat. Maksudnya, dengan cepat Anda kekurangan kapasitas simpan.

Ini sebenarnya tidak mengherankan, mengingat file-file video dari YouTube, koleksi foto hasil jepretan kamera digital yang kian tinggi resolusinya, plus aplikasi-aplikasi menarik yang sering Anda unduh, sunting, dan pakai, terus saja bertambah, sementara kapasitas harddisk tidak Anda tambah.

Kalau sudah begini, solusi yang paling praktis adalah dengan menambahkan sebuah harddisk portabel, alias eksternal. Mengapa kami sebut praktis? Sebab tidak perlu repot-repot buka casing dan menghubungkan kabel harddisk ke motherboard.

Praktis, Ringkas
Tinggal koneksikan saja harddisk portabel ke port USB/FireWire komputer via kabel yang disediakan, dan Anda sudah mendapat tambahan kapasitas, yang mungkin saja lebih besar dibandingkan harddisk yang bercokol dalam komputer Anda. Juga tidak perlu pasang power supply tambahan. Mudah dan cepat bukan?

Harddisk portabel, sesuai namanya, tentu mudah dibawa-bawa, termasuk dimasukkan dalam saku celana, karena bentuknya yang ringkas, kompak. Biasanya, harddisk portabel datang disertai dengan software backup. Memang fungsi harddisk portabel – tadinya – adalah sebagai media backup. Karena itu, harddisk portabel juga berfungsi sebagai pemulih (restorer) data dan file jika file ‘asli’ terkorupsi, karena virus misalnya.

Apa yang Perlu Diperhatikan?
Di pasar saat ini ada banyak sekali pilihan merek harddisk portabel, antara lain A-Data, Buffalo, Iomega, Imation, LaCie, Maxtor, Qnap, Samsung, Seagate, Toshiba, Transcend, dan Western Digital. Fisik harddisk portabel masa kini cantik, mungil, dengan kapasitas yang kian besar. Ada yang mengemaskan harddisk 1,8”, ada yang 2,5”, juga 3,5”. Tinggal pilih mana yang dibutuhkan.

Nah, agar Anda tidak terlalu repot memikirkan apa saja yang harus dipertimbangkan saat membeli harddisk portabel, berikut kami berikan sedikit panduan. Perhatikan hal-hal di bawah ini saat berbelanja harddisk portabel.

1. Kapasitas (kapasitas simpan file maksimal)
Kapasitas simpan harddisk portabel bervariasi, dimulai dari 40GB sampai 500GB. Namun kini juga sudah muncul harddisk portabel yang daya tampungnya mencapai 1,5TB (terabyte). Jika Anda banyak bekerja dengan file video dan grafis, kami sarankan untuk memilih harddisk portabel dengan kapasitas terbesar yang bisa Anda beli.

Selain ditujukan sebagai suplemen harddisk di komputer desktop, kebanyakan harddisk portabel kini justru membidik pasar pengguna notebook dan netbook (mini notebook). Harddisk portabel yang ditujukan pada notebook/mini notebook hadir dalam dua ukuran: 2,5” dan 1,8”. Namun Anda juga tidak dilarang memilih yang berukuran 3,5”, kendati yang satu ini lazimnya ditujukan pada PC desktop. Tentu kenyamanan membawa-bawanya akan berbeda. Selain itu, harga harddisk portabel 1,8” pasti lebih mahal dibandingkan yang 2,5”, kendati keduanya berkapasitas tepat sama.

2. Kecepatan putar drive
Kecepatan putar disk sebagian ditentukan oleh kecepatan laju data, dan dinyatakan dalam rpm (rotation per minute). Umumnya harddisk portabel berputar pada kecepatan 5400rpm.

3. Besar buffer atau cache
Besarnya buffer mewakili jumlah memori yang di-cache, atau disimpan yang bisa ditangani oleh sebuah drive ketika menanti permintaan (request) berikutnya dari sistem. Besarnya buffer berkisar dari 2MB – 16MB. Semakin besar ukuran buffer, semakin banyak data yang bisa disimpan dan semakin cepat pengantaran datanya. Namun semakin besar ukuran buffer yang dikemaskan sebuah harddisk portabel, akan semakin mahal pula harga harddisk portabel tersebut.

4. Fitur Recovery
Pilihlah harddisk portabel yang dilengkapi dengan fitur backup and recovery. Fitur ini berguna di saat file-file Anda mengalami kerusakan atau korupsi data akibat hilangnya asupan listrik secara tiba-tiba, atau pun akibat serangan virus. Melalui fitur recovery, Anda akan bisa memulihkan data yang hilang/rusak.

5. Kemampuan PnP (plug and play)
Tancapkan kabelnya dan harddisk portabel langsung bisa dipakai tanpa perlu instalasi driver atau software apa pun, begitu maksud PnP. Kemampuan PnP khususnya diperlukan jika Anda bermaksud menggunakan satu harddisk portabel di beberapa komputer – PC di kantor, netbook di luar kantor, atau notebook di rumah. (kompas)

Setelah saya googling, saya tertarik dengan merk WD. Walau masih banyak lainnya yang bagus seperti Seagate, Hitachi, Buffalo, Transcend, Axioo, dll. Rencana akan membeli WD Passport Essential 320Gb. Atau kalau tidak Seagate Freeagent Go 320Gb. Tergantung harga yang cocok nantinya.

dikopi dari : forumbebas.com